Gereja St. Joseph dibangun selama rentang dua belas tahun yakni antara tahun 1746 hingga 1758. Gereja ini merupakan warisan penting dan kesaksian sejarah misionaris Makau. Gereja yang merupakan bagian dari seminari Yesuit St. Joseph ini adalah gereja indah yang merupakan objek favorit para wisatawan dan seniman. Seminari tersebut bersama dengan Univeristas St. Paul adalah markas para misionaris yang ditugaskan di China, Jepang dan tempat-tempat lain disekitarnya. Pada tahun 1762, tersebutlah sebuah dekrit yang memerintahkan pengusiran para Yesuit dari seluruh wilayah pendudukan Portugis. Bersamaan dengan itu, kehidupan akademik dari seminari dan Universitas St. Paul pun berakhir. Padahal seminari ini cukup banyak dihuni murid berbagai negara dari belahan Eropa, Asia, dan Amerika. Bangunan ini sedikitnya mengalami 3 kali renovasi yakni pada tahun 1903, 1953 dan 1995.

Terletak di sebuah bukit yang disebut Mato Mofino di area St. Lawrence, Gereja St. Joseph berdekatan dengan Gereja St. Lawrence yang juga dikenal dnegan nama Feng Shun Tang.  Arsitektur Gereja St. Joseph ini memadukan antara pengaruh barat dan lokal baik didalam rangka bangunan maupun ornamen gedung. Untuk memasuki gereja ini, pengunjung harus melewati sebuah gerbang yang dengan gaya klasik yang terbuat dari besi. Menuju gereja, sama halnya dengan Ruins of St. Paul’s Church, kita harus menaiki 54 anak tangga yang terbuat dari granit padat. Halaman depan gereja dinaungi pohon yang berumur ratusan tahun. Pintu gereja terbuat dari kayu yang besar dan kokoh. Begitu memasuki area gereja, mata kita akan dimanjakan dengan deretan kursi yang berjajar rapi berpusat pada altar yang indah. Pintu samping altar mengarah ke taman yang memiliki sumur kuno dan tempat merawat tanaman. Di altar utama gereja ini terdapat dua patung tokoh Yesuit paling terkenal yakni St. Ignatius de Loyola dan St. Francis Xavier. Altar ini dihiasi dengan ornamen-ornamen spiral yang menawan. Disamping altar utama terdapat dua altar pendamping. Di gereja ini juga tersimpan potongan tulang tangan St. Fransiskus Xaverius. Potongan tulang tersebut merupakan salah satu relikui religi dan benda yang dihormati sekaligus berharga yang semula menjadi koleksi Gereja Mater Dei atau Ruins of St. Paul.

Seperti gereja-gereja tua pada umumnya, langit-langit gedung ini dibangun dengan sangat tinggi berornamen klasik. Bentuk langit kubah yang bundar dengan hiasan turut memperindah bangunan kuno ini. Tata lampu dan penerangan gereja juga menambah dramatis interior tempat ibadah yang menjadi jujugan destinasi wisata religi turis domestik dan macanegara ini. Pada tahun 2005, Gereja St. Joseph ini masuk sebagai warisan budaya versi UNESCO.

Bangunan megah Gereja St. Joseph ini tidak hanya dimanfaatkan para jemaah untuk beribadah namun juga sering menjadi tempat diadakannya konser untuk Festival Musik Internasional tahunan. Ya, karena mempunyai tata interior yang baik plus akustik yang mumpuni, pagelaran musik di gedung ini akan menghasilkan suara yang indah. Tak salah jika tak hanya wisatawan dan jemaah saja yang menyukai Gereja St. Joseph, tetapi juga para artis khususnya yang menyukai desain interior dan seniman di bidang seni musik.

Gereja ini dapat dikunjungi setiap hari sejak pukul 10 pagi hingga 5 sore. Selain Gereja St. Joseph, Makau masih menyimpan bangunan-bangunan religi lainnya seperti Gereja St. Dominic’s, Kuil A-Ma dan Chapel of St. Francis Xavier. Beberapa hotel yang bisa Anda singgahi selama di Makau adalah Grand Lisboa, Waldo Hotel dan Hotel Lan Kwai Fong Macau.  

Komitmen kami untuk memberikan informasi, tips, dan panduan wisata untuk Anda sekalian. Namun demikian, pemeliharaan website ini tidaklah murah. Apabila Anda memesan hotel, silahkan klik link hotel yang ada di halaman ini untuk membantu kami terus dapat memberikan informasi serta panduan wisata yang lebih menarik lagi. Dan juga sarankan kami di twitter dan facebook.


Mau Liburan Murah? Pastikan Hubungi Kami!
Tour Murah Panduan Wisata. Telp: +62.85.101.171.131. Pin BB: 5BF4C2B4

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,